1. Ibnu Muqlah
Beliau dikenal sebagai kaligrafer ulung pada masa kekuasaan dinasti
abasiyah, dilahirkan pada tahun 272 hijriyah di Baghdad.
Nama lengkapnya Abu Ali Al-Shadr Muhammad bin Al-Hassan bin Muqlah namun
beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Muqlah yang dalam bahasa Indonesia yang
berarti anak sebiji atau anak kesayangan.
Belajar kaligrafi pada kaligrafer Ahwal, salah seorang murid maha guru
Kaligrafer Ibrrahin Syajari, dengan kecerdasan dan ketekunannya Ibnu Muqlah
telah membawa sukses besar dalam menyempurnakan rumus-rumus kaligrafi Cursif
hingga diakui sebagai penemunya yang sejati dan memperoleh 2 gelar kehormatan,
Imamul-Khattatin (panutan kaligrafer) dan Nabiyul Khat.
Dengan prestasi yang telah dicapainya beliau diangkat swebagai Perdana
Menteri masa pemerintahan tiga Khalifah abasiyah dari tahun 908 M sampai tahun
940 M. (32 tahun).
Beliau wafat dalam tahanan politik akibat fitnah dari musuh-musuhnya pada
tahun 940 M, jenazahnya dikebumikan di rumah Sultan tapi kemudian dipindah oleh
istrinya (Dinariyah) di istana Ummul Habib.
2. Ibnu Al-Bawwab
Diantara murid-murid Ibnu Muqlah tersebutlah Ibnu As-Simsimany dan Ibnu
Asad yang mewarisi betul-betul ilmu guru besar mereka dan berhasil menurunkan
kaligrafer muda berbakat, bernama Abu Al-Hasan Ali Ala'uddin bin Hilal yang
sering pula dijuluki Ibnu Abdil Aziz juga sering disebut orang dengan nama Ibnu
al-Bawwab.
Dengan bakat dan bimbingan gurunya, Ibnu Al-Bawwab berhasil mewarisi gaya
tulisan Ibnu Muqlah menjadi lebih indah lagi dengan nama Al-Manshub Al-Faiq
yang merupakan penyempurnaan Naskhi dan Muhaqqoq. Satu prestasi yang menjadi
catatan sejarah adalah kesuksesannya menciptakan gaya/bentuk tulisan baru yang
dikenal dengan nama khat/kalam Rayhany dari Tsulutsi dan Muhaqqoq yang
diperindah.
Beliau menulis 64 buah Mushaf Al-Qur'an dan sejumlah besar kitab-kitab
dengan cairan tinta emas yang amat indah sehingga para ahli sejarah menyebutnya
sebagai kalamullah fi Ardhihi (pena Allah di bumi).
Setiap hari bekerja menghiasi bangunan-bangunan, masjid-masjid dan
gedung-gedung pemerintah dengan tulisan dan fariasi lukisan figura disamping
mengajar murid-muridnya hingga wafatnya pada tahun 1022 M, jenazahnya
dikebumikan di sampiung Imam Ibnu Hambal di Baghdad.
3. Hafidz Utsman
Beliau adalah penghafal Al-Qur'anmaka oleh orang banyak disebut Hafidz
Utsman bin ali yang lahir di Asitanah Turki.
Oleh Wasir Musthafa Pasha beliau dikirim untuk belajar khat kepada beberapa kaligrafer masyhur pada saat itu. Diantaranya adalah Darwisyi ali Al-Khattat dan berhasil menggondol ijazah "Khattat dan Ta'lim Khat" dari beliau pada waktu usianya kurang dari 18 tahun, kemudian berhasil memperoleh gelar Khattat dari kaligrafer terkenal Agha Qabuli (Ismail Affandi).
Keharuman namanya itu bertambah dengan terpilihnya beliau sebagai guru kaligrafer untuk Sultan Musthafa Khan II dan Ahmad Khan II pada tahun 1106 H.Beliau mengajar sultan dan beberapa orang pembesar/pejabat tiap hari Rabu dan memberikan pelajaran khat secara gratis kepada orang-orang yang tak mampu khusus tiap hari Minggu.
Beliau menulis 25 buah Mushaf Al-Qur'an dan sejumlah besar karya-karya indah yang pernah dihimpun dalam sebuah "Lukisan Matahari".
Meski pada akhir hayatnya menderita penyakit lumpuh beliau tetap mengajar orang sampai wafatnya pada tahun 1698 M setelah 40 tahun mengajar khat. Jenazahnya dimakamkan di Rabath.
4. Yaqut Al-Musta'shimy
Pada abad ke 13 M, pernah muncul kaligrafer besar bernama Yaqut. nama lengkapnya adalah Dzar Abu-Majid Aminuddin Yaqut bin Abdillah juga memiliki nama julukan Jamaluddin.
Beliau bukan keturunan Arab tapi keturunan Romawi (Eropa) asli yang lahir dan dibesarkan bersama-sama hamba sahaya lainnya. Oleh Khalifah Al-Musta'sim Billah, penguasa/sultan terakhir daulat Abasiyah di Baghdad itulah beliau mendapat tambahan nama "Al-Musta'shimi" di ujung namanya dan menjadi Yaqut Al-Musta'shimi.
Beliau berhasil mencapai puncak prestasinya setelah menemukan metode baru pembuatan Qalam bambu yang dipotong miring hingga sukses membawa al-Aqlam Assittah kepuncak keindahannya sampai dikenal khat gaya Yaquti yang dikembangkan dari Tsuluts, melihat prestasinya yang begitu gemilang beliau digelari orang pada masanya "Qiblatul Kuttab" (kiblatnya seluruh kaligrafer).
Sampai pada wafatnya di Baghdad pada tahun 1298 M, beliau tetap berlatih terus dengan menulis 2 Juz Al-Qur'an di samping mengajari murid-muridnya.
5. Abdullah Zuhdy
Nama lengkap beliau adalah Abdullah Zuhdy bin Abdul Qadir An-Nablusi, dilahirkan di Asitanah. Belajar kaligrafi/khat kepada Rasyid Affandi/Ayyub Ali yang cukup terkenal namanya, dan beliau mendapat Ijazah Khatta dari gurunya Musthafa Izzat yang juga termasuk kaligrafer kesohor pada masanya.
Setelah menjadi guru besar kaligrafi pada Universitas Nur Utsmaniyah di Asitanah, beliau ditunjuk oleh sultan Abdul Majid (penguasa Turki) untuk menghiasi masjid An-Nabawi di Madinah dan dalam perjalanan pulang melewati Mesir, oleh Ismail Pasha (Gubernur Turki di Mesir) di tunjuk sebagai guru kaligrafi di perguruan tinggi/sekolah tinggi Khudayuwiyah. Melihat prestasinya ini pemerintah kemudian menugaskan beliau untuk menghiasi dinding dan kiswah Ka'bah serta beberapa masjid-masjid besar di Mesir.
Beliau terus mengajar dan berhasil menurunkan para kaligrafer Mesir hingga wafatnya pada tahun 1296 H dan dikebumikan di pemakaman Imam Syafi'i.
6. Hasyim Muhammad
Beliau dilahirkan pada tahun 1919 M. di Baghdad, Irak. Mulai mempelajari seni kaligrafi setelah menamatkan sekolah dasar kepada gurunya yang pertama, Arif Affandi kemudian kepada Ali Darwisyi dan telah memperoleh Ijazah Khattat dari Sekolah "Tahsin Al-Khutut" Cairo Mesir.
Setelah lama bergaul dengan para kaligrafer Mesir yang terkenal yaitu As-Sayyid Ibrahim untuk berguru kepada jago kaligrafi Turki yang terkenal yaitu Musa Azmi yang terkenal dengan sebutan Hamid Al-Amidi sehingga dari gurunya itulah dia memperoleh gelar Al-Khattat pada akhir namanya dan berhasil menguasai seluruh rumus-rumus Ibnu Muqlah, Yaqut dan rumus-rumus Turki.
Karena prestasi yang gemilang itulah beliau diangkat sebagai Maha Guru Khat pada Sekolah Tinggi Kesenian Negara dan Dosen pada Universitas Irak di Baghdad hingga Irak menjadi pangkalan kaligrafi dunia Islam ke dua setelah Turki. Beliau pernah diutus ke Jerman oleh Pemerintah/Negara sebagai tim peneliti penerbitan/percetakan Mushaf Al-Qur'an. Disamping terus menghiasi dan menulisi gedung-gedung, masjid-masjid dan Mushaf Al-Qur'an beliau juga bekerja pada kantor Gubernur Daerah sampai akhir wafatnya.
dikutip dari buku Seni Kaligrafi Kontemporer Assosiasi Kaligrafer AKLAM.
Oleh Wasir Musthafa Pasha beliau dikirim untuk belajar khat kepada beberapa kaligrafer masyhur pada saat itu. Diantaranya adalah Darwisyi ali Al-Khattat dan berhasil menggondol ijazah "Khattat dan Ta'lim Khat" dari beliau pada waktu usianya kurang dari 18 tahun, kemudian berhasil memperoleh gelar Khattat dari kaligrafer terkenal Agha Qabuli (Ismail Affandi).
Keharuman namanya itu bertambah dengan terpilihnya beliau sebagai guru kaligrafer untuk Sultan Musthafa Khan II dan Ahmad Khan II pada tahun 1106 H.Beliau mengajar sultan dan beberapa orang pembesar/pejabat tiap hari Rabu dan memberikan pelajaran khat secara gratis kepada orang-orang yang tak mampu khusus tiap hari Minggu.
Beliau menulis 25 buah Mushaf Al-Qur'an dan sejumlah besar karya-karya indah yang pernah dihimpun dalam sebuah "Lukisan Matahari".
Meski pada akhir hayatnya menderita penyakit lumpuh beliau tetap mengajar orang sampai wafatnya pada tahun 1698 M setelah 40 tahun mengajar khat. Jenazahnya dimakamkan di Rabath.
4. Yaqut Al-Musta'shimy
Pada abad ke 13 M, pernah muncul kaligrafer besar bernama Yaqut. nama lengkapnya adalah Dzar Abu-Majid Aminuddin Yaqut bin Abdillah juga memiliki nama julukan Jamaluddin.
Beliau bukan keturunan Arab tapi keturunan Romawi (Eropa) asli yang lahir dan dibesarkan bersama-sama hamba sahaya lainnya. Oleh Khalifah Al-Musta'sim Billah, penguasa/sultan terakhir daulat Abasiyah di Baghdad itulah beliau mendapat tambahan nama "Al-Musta'shimi" di ujung namanya dan menjadi Yaqut Al-Musta'shimi.
Beliau berhasil mencapai puncak prestasinya setelah menemukan metode baru pembuatan Qalam bambu yang dipotong miring hingga sukses membawa al-Aqlam Assittah kepuncak keindahannya sampai dikenal khat gaya Yaquti yang dikembangkan dari Tsuluts, melihat prestasinya yang begitu gemilang beliau digelari orang pada masanya "Qiblatul Kuttab" (kiblatnya seluruh kaligrafer).
Sampai pada wafatnya di Baghdad pada tahun 1298 M, beliau tetap berlatih terus dengan menulis 2 Juz Al-Qur'an di samping mengajari murid-muridnya.
5. Abdullah Zuhdy
Nama lengkap beliau adalah Abdullah Zuhdy bin Abdul Qadir An-Nablusi, dilahirkan di Asitanah. Belajar kaligrafi/khat kepada Rasyid Affandi/Ayyub Ali yang cukup terkenal namanya, dan beliau mendapat Ijazah Khatta dari gurunya Musthafa Izzat yang juga termasuk kaligrafer kesohor pada masanya.
Setelah menjadi guru besar kaligrafi pada Universitas Nur Utsmaniyah di Asitanah, beliau ditunjuk oleh sultan Abdul Majid (penguasa Turki) untuk menghiasi masjid An-Nabawi di Madinah dan dalam perjalanan pulang melewati Mesir, oleh Ismail Pasha (Gubernur Turki di Mesir) di tunjuk sebagai guru kaligrafi di perguruan tinggi/sekolah tinggi Khudayuwiyah. Melihat prestasinya ini pemerintah kemudian menugaskan beliau untuk menghiasi dinding dan kiswah Ka'bah serta beberapa masjid-masjid besar di Mesir.
Beliau terus mengajar dan berhasil menurunkan para kaligrafer Mesir hingga wafatnya pada tahun 1296 H dan dikebumikan di pemakaman Imam Syafi'i.
6. Hasyim Muhammad
Beliau dilahirkan pada tahun 1919 M. di Baghdad, Irak. Mulai mempelajari seni kaligrafi setelah menamatkan sekolah dasar kepada gurunya yang pertama, Arif Affandi kemudian kepada Ali Darwisyi dan telah memperoleh Ijazah Khattat dari Sekolah "Tahsin Al-Khutut" Cairo Mesir.
Setelah lama bergaul dengan para kaligrafer Mesir yang terkenal yaitu As-Sayyid Ibrahim untuk berguru kepada jago kaligrafi Turki yang terkenal yaitu Musa Azmi yang terkenal dengan sebutan Hamid Al-Amidi sehingga dari gurunya itulah dia memperoleh gelar Al-Khattat pada akhir namanya dan berhasil menguasai seluruh rumus-rumus Ibnu Muqlah, Yaqut dan rumus-rumus Turki.
Karena prestasi yang gemilang itulah beliau diangkat sebagai Maha Guru Khat pada Sekolah Tinggi Kesenian Negara dan Dosen pada Universitas Irak di Baghdad hingga Irak menjadi pangkalan kaligrafi dunia Islam ke dua setelah Turki. Beliau pernah diutus ke Jerman oleh Pemerintah/Negara sebagai tim peneliti penerbitan/percetakan Mushaf Al-Qur'an. Disamping terus menghiasi dan menulisi gedung-gedung, masjid-masjid dan Mushaf Al-Qur'an beliau juga bekerja pada kantor Gubernur Daerah sampai akhir wafatnya.
dikutip dari buku Seni Kaligrafi Kontemporer Assosiasi Kaligrafer AKLAM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar